Kekerasan Anak Terjadi di Wilayah Hukum Polres Semarang

Uncategorized

Kab.Semarang,MHI– Kekerasan anak yang terjadi di SMP Al Falah,di pondok pesantren SMP Al Falah, Jetis,kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang menjadi perhatian publik,di saat pemerintah daerah menekan penyebaran cluster covid dan serta penegak hukum fokus pada PPKM Darurat, terjadi kekerasan di suatu pondok pesantren ternama di kabupaten semarang,” A”(12th) adalah korban kekerasan oleh kakak senior ( inisial “F”),mengalami luka lebab dan hidung berdarah tidak ada penanganan medis atau kesehatan oleh pengasuh pondok pesantren, sekolah sendiri ada fasilitas kesehatan,yang harusnya bisa di tangani pengobatan awal.


Istri pengasuh pondok pesantren Al Falah
yang biasa disebut Bunda Khoirul Wasiah tidak kooperatif dengan awak media,pukul 20.00wib(18 Juli 2021 ) awak media Koran Pagi dan Jurnal Police mengadakan janji dengan bu Wasiah melalui percakapan WA ,setelah awak media ke pondok ternyata tidak bisa di temui dan bertemu suaminya,Bapak Ahmad Syamsudin Zuhri yang tak lain pengasuh pondok pesantren dan di serahkan seemua persoalan ke pengacaranya.


Kronologis kejadian saat” A” bermain sama seniornya bernama “F”,entah bagaimana “A” di pukuli sampai mata memar dan hidung berdarah,rekan satu kamar sempat melerai tapi takut,”F” sendiri berasal dari Demak satu kabupaten dengan pak Syamsudin,itu yang teman teman takut mau melaporkan karena dekat sama pak kyai ( Syamsudin ) pelakunya,
“Kedua orang tua korban ( “A” ) pada hari minggu(18/07/2021) besuk anaknya di pondok Pesantren Al Falah,sangat terkejut melihat wajah anaknya memar semua,dan orang tuanya menanyakan ada apa?


“A” menjawab kemarin hari sabtu(17/06/2021) jam 17.30wib di pukuli sama seniornya ( F) sampai luka memar dan lebam dan tidak ada yang mengobati luka luka di wajah,kedua orang tuanya langsung membawa pulang ke rumah setelah mengetahui waktu besuk ke pondok.


Atas kejadian ini orang tuanya menanyakan aktifitas apa saja yang di kerjakan di Pondok SMP Al Falah kepada anaknya, korban mengutarakan di saksikan awak media,disana saya sholat tidak bisa 5 waktu,pagi tidak ada yang membangunkan tidur,hal ini banyak di alami teman teman,anak pondok hanya dberi makan 2 kali sehari,dan setiap hari minggu semua santri pondok tidak di kasih makan di haruskan jajan di koperasi,kalau tidak ada uang ya tidak makan,untuk minum kami dan semua teman minum air kran yang katanya sudah di doakan oleh mbah kyai ( Samsudin ) ujar andika setelah menceritakan semua kepada kedua orang tua di rumah sambil menangis,padahal orang tua membayar bulanan 250.000,- yang kami tahu sudah mencakup makan yang cukup ternyata hari minggu tidak di kasih makan apa apa,” ujar bu triah.

Sebagai ibu saya tidak terima yang di lakukan terhadap anak saya,pihak pondok pesantren SMP Al Falah sendiri sampai sekarang tidak ada yang melihat mengunjungi kondisi anak saya,foto anak saya saya kirim ke group wa wali murid dapat tangapan positif dari rekan wali murid,setelah itu saya di keluarkan dari group wa SMP Al Falah.


Atas kejadian ini Orang tua A akan menempuh jalur hukum setelah hasil visum di ketahui,dan saya harap dinas terkait dan satgas Covid bisa melakukan Investigasi ke pondok Al Falah,apakah berkerumunan banyak anak disana sesuai Protokol Kesehatan,anak saya disana juga tidak memakai masker ,kondisi seperti ini saya sebagai orang tua juga takut penyebaran covid 19,sambil menangis menatap anaknya,”ungkap bu triah.(Divhum/Litbang MHI Jateng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *